This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 06 Januari 2014

Ini daftar artis dan atlet nyaleg

Ini daftar artis dan atlet nyaleg

Haris Kurniawan
Selasa,  23 April 2013  −  11:32 WIB
Ini daftar artis dan atlet <i>nyaleg</i>
Ilustrasi, (SINDOphoto).
Sindonews.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) secara resmi telah menutup pendaftaran bakal calon anggota legislatif (bacaleg) untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, 12 partai politik (parpol) peserta pun telah menyerahkan nama-nama tersebut.

Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan Sindonews sejak pendaftaran dibuka pada 9 hingga 22 April 2013, tercatat beberapa nama artis hingga atlet yang ikut meramaikan bursa calon legislator.

Berikut daftar artis dan atlet yang ikut jadi caleg. Dari Partai Golongan Karya (Golkar), diisi oleh Nurul Arifin, Tantowi Yahya, Teti Kadi, Charles Bonar Sirait. Dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), ada Gusti Randa dan David Chalik.

Di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), terdapat Ridho Roma, Arzetti Bilbina, Said 'Bajaj Bajuri', Mandala Shoji, Iyeth Bustami, Sayuti 'Sitkom OB', Akri 'Patrio', dan Vicki Irama.

Untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), artis cantik Angel Lelga, Okki Asokawati, dan Mat Solar. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), diisi Rieke Dya Pitaloka, Yesi Gusman, Edo Kondologit, Nico Siahaan, dan Dedi 'Miing' Gumelar.

Sedangkan dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), ada Irwansyah, Jamal Mirdad, Rachel Maryam, Bella Saphira, Iis Sugianto, dan Purnomo (mantan sprinter). Di Partai Nasional Demokrat (NasDem), dengan komposisi Doni Damara, Jane Salimar, Melly Manuhutu, Riky Subagja (mantan atlet badminton), dan Nil Maizar (mantan pelatih Timnas Indonesia).

Partai Demokrat diisi oleh Vena Melinda, Ingrid Kansil, dan Nurul Qomar. Partai Amanat Nasional (PAN) ada Primus Yustisio, Eko Patrio, Ikang Fawzi, Dwiki Darmawan, Desi Ratnasari, Jeremy Thomas, Ayu Azhari, Yayuk Basuki (mantan petenis).

Akbar: JK maju capres elektabilitas capres Golkar terpengaruh


Akbar: JK maju capres elektabilitas capres Golkar terpengaruh

Senin, 11 November 2013 19:23 WIB | 3834 Views
Partai Golkar (ANTARA News)
Secara formal kan Capres Partai Golkar adalah Aburizal Bakrie yang sudah ditetapkan lewat Rapimnas, tetapi sejauh mana anggota-anggota partai betul-betul mengikuti apa yang menjadi putusan Dewan Pimpinan Pusat itu juga menjadi pertanyaan."

Jakarta (ANTARA News) - Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung menyatakan apabila Jusuf Kalla memutuskan maju sebagai calon presiden (capres) dari partai lain, maka akan mempengaruhi elektabilitas capres yang diusung partai berlambang beringin tersebut.

"Pasti ada pengaruhnya, pasti. Juga akan berpengaruh terhadap Capres Partai Golkar kalau seandainya Pak JK maju," kata Akbar setelah menghadiri seminar di Kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Senin.

Kedudukan JK selaku mantan Ketua Umum Partai Golkar, diyakini menjadi salah satu faktor penting yang mungkin akan mempengaruhi elektabilitas partai itu apabila dirinya maju dalam pencalonan presiden dari partai lain.

"Kalau betul JK maju, tentu saja kader Partai Golkar di Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan tentu ada pengaruhnya," ujarnya.

Akbar menyatakan bahwa secara formal pencalonan JK tidak akan mempengaruhi Partai Golkar, khususnya untuk penetapan Ketua Umum Aburizal Bakrie sebagai capres hasil keputusan Rapat Pimpinan Nasional 2012 lalu.

"Secara formal kan Capres Partai Golkar adalah Aburizal Bakrie yang sudah ditetapkan lewat Rapimnas, tetapi sejauh mana anggota-anggota partai betul-betul mengikuti apa yang menjadi putusan Dewan Pimpinan Pusat itu juga menjadi pertanyaan," katanya.

Meski demikian, Akbar menampik kemungkinan menggandeng JK sebagai cawapres pasangan Aburizal Bakrie demi menyelamatkan potensi pengaruh yang ditimbulkan pencalonan mantan Ketua Umum tersebut.

"Saya kira tidak ada secara politik pikiran ke situ," ujarnya.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa Partai Golkar tidak memiliki wewenang tertentu untuk melarang JK apabila ingin menerima tawaran maju sebagai capres PKB.

Oleh karena itu, ia menyatakan bahwa keputusan mengenai hal tersebut semua berada di tangan JK.

"Pada akhirnya tentu akan kembali kepada Pak JK, untuk menetapkan apakah dia memang siap ataupun bersedia," katanya.

"Kalau memang dia ada niat ke sana, menurut saya sebaiknya disampaikan dan dibicarakan dengan pemimpin-pemimpin Partai Golkar, khususnya Ketua Umum Aburizal Bakrie," ujar Akbar menambahkan.

Akbar sendiri menilai wajar adanya wacana publik untuk mengajukan JK sebagai calon presiden dari partai lain.

Sebelumnya, Dewan Pimpinan Wilayah PKB se-Kalimantan dan Nusa Tenggara Barat pada Senin (28/10) membuat pernyataan dukungan mengusulkan Jusuf Kalla sebagai bakal capres 2014-2019.

Pertimbangannya karena JK dianggap memiliki kapabilitas dan kredibilitas yang teruji sebagai negarawan. JK juga dinilai mampu menangani konflik dan mempersatukan bangsa Indonesia yang beragam dan pluralistik.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Fadel Muhammad mempersilahkan Jusuf Kalla menjadi bakal capres PKB karena merupakan hak seseorang untuk berpolitik.

"Kalau beliau (JK) mau ke PKB silahkan saja karena kami tidak bisa menghentikannya," kata Fadel di Jakarta, Selasa (29/10).

Fadel mengatakan seorang kader Partai Golkar tidak bermasalah jika menjadi bakal capres partai lain asalkan tidak menjadi pengurus inti partai.
Editor: B Kunto Wibisono

ramalan joyoboyo

Gabungan lima suku kata "notonogoro" satu-satunya ramalan Joyoboyo yang paling sering diutak-atik dan digathuk-gathukkan oleh siapapun yang hendak memprediksi siapa calon kepala negara baru yang kelak memimpin negeri seluas bekas Majapahit/Hindia Belanda.

Notonogoro/notonegoro sebagai kata kesatuan memiliki makna "seorang tokoh yang berkemampuan menjadi kepala negara Nusantara yang adil dan dapat memakmurkan, mensejahterakan, dan menjaga keadilah bagi segenap kehidupan rakyatnya."

Ramalan Joyoboyo "notonogoro" jika dianggap merupakan gabungan lima suku kata terakhir dari penggalan nama tokoh pemimpin, maka secara berurutan susunannya adalah berikut: No, To, No, Go, Ro.

Dalam aksara Jawa maka varian dari suku kata No ialah Nyo, lebih luas lagi agar tidak terkesan Javasentris maka varian lain yang tersedia adalah Na.

Begitu pula dengan To, suku kata kedua "notonogoro" maka varian dalam aksara Jawa dari To ialah Tho, selanjutnya lebih luas lagi ialah Ta. Untuk suku kata ketiga dari notonogoro yakni No, idem dengan No suku kata pertama.

Suku kata keempat "go" yakni dalam aksara Jawa maka varian Go ialah Ngo, Nggo, dan juga tentu saja Ga. Selanjutnya varian dari suku kata terakhir notonogoro yakni "Ro" dalam aksara Jawa Ro tidak ada bentuk lainnya, kecuali lebih luas lagi agar tidak Jawasentris adalah Ra.

Orde Baru mulai berkuasa terhitung sejak 1967 dengan hasil Tap MPRS penuh rekayasa terhadap dokumen Supersemar, ujungnya Soeharto marak sebagai penjabat presiden. Dengan demikian MPRS juga telah "melengser keprabon"kan Bung Karno.

Orba sebagai kekuatan sosial politik yang dominan menggelar pesta demokrasi yang diadakan lima tahun sekali. Tak ada tokoh selain Pak Harto yang maju sebagai kontestan pilpres, alhasil Pak Harto selalu menjadi calon tunggal yang ujungnya dipilih oleh MPR dengan suara bulat. "Notonogoro" Joyoboyo pada waktu itu merupakan hal tabu dibicarakan oleh siapa saja, dan jangan coba-coba untuk berani meramalkan pemimpin Nusantara yang baru selain pilihan Orba. Maka yang tengah terjadi tiap pesta demokrasi lima tahunan tak seorang pun berani membuka pokok "notonogoro".

Mengapa "notonogoro" begitu menjadi momok bagi Orba yang tidak pernah membuka peluang munculnya calon kepala negara yang lain? Tentu saja agitasi dan propaganda Orba yang hebat itu yang konon meniru teknik propaganda Hitler, hasilnya sungguh luar biasa.... pada waktu itu yang terpampang di dunia politik adalah masa mencekam, menyeramkan, dan siapapun tidak boleh membuat sekadar ramalan munculnya tokoh yang potensial menjadi rival Soeharto -- yang fasis dan otoriter karena memberangus semua lawan-lawan politiknya.

Ramalan Joyoboyo "notonogoro" ini menjadi terjun bebas untuk dijadikan pokok oleh semua orang sejak era reformasi, atau sejak tumbangnya kekuasaan Soeharto pada 21 Mei 1998.

Tumbangnya Soeharto dengan cara mengakhiri kekuasaannya melalui penyerahan langsung kepada wakil presiden, memang tampaknya "sesuai" konstitusi. Soeharto yang punya nama berakhiran TO ini pernah terpilih dalam sidang MPR sebanyak enam kali berturut-turut begitu usai pemilu lima tahunan. Tumbangnya Soeharto yang merupakan lawan politik Bung Karno pada akhirnya membuat semua lawan politik Bung Karno itu terseret diadili oleh mahkamah sejarah.

Soekarno yang memiliki No pada suku kata terakhir pada namanya itu telah mengawali kelahiran Republik Indonesia, dan memerintah di wilayah seluas jajahan Hindia-Belanda minus Irian Barat. Rakyat Papua sendiri yang serta-merta ikut berjuang menyokong pembebasan wilayah Irian Barat dari penjajahan Belanda. Dengan demikian sejak 1 Mei 1963 maka lunaslah Bung Karno memerintah luas wilayah yang sama persis seluas wilayah jajahan Hindia-Belanda.

Peralihan kekuasaan dari Bung Karno yang jatuh ke tangan Soeharto adalah tidak sah menurut sebagian ahli hukum tatanegara karena "Supersemar" telah dimanipulasi dan direkayasa sedemikian rupa hingga menghasilkan apa yang disebut oleh para pakar asing sebagai "creeping coup d'etat".. Tatanegara yang dekat dengan istilah ramalan Joyoboyo "notonogoro" selama ini menghasilkan tokoh pemimpin antara lain Soekarno, Soeharto yang memiliki kelebihan dan kekurangan dalam diri masing-masing. Persamaannya tampaknya dapat dilihat dari segi bahwa keduanya ingin tetap bertahan dan berkuasa terus-menerus layaknya para raja-raja Jawa di masa silam.

Berikut ini urutan nama-nama presiden RI yang telah memerintah dikaitkan dengan lima suku kata prediksi Joyoboyo "notonogoro", dan arti "notonogoro" yakni panotogoro, panotoprojo yang mampu memimpin praja atau pemerintahan di wilayah bekas Majapahit dan Hindia-Belanda.

1. Soekarno, Soeharto, S.B. Yudhoyono = No-To-No (Go-Ro)
2. B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri = kepala negara (notonogoro/notonegoro)

Siapakah yang kelak memenangkan pilpres 2014 yang akan datang? Walahualam bisawab...! Sesuai prediksi Joyoboyo "notonogoro" yang terdiri dari dua jalur di atas ini, maka pada jalur utama dapat diprediksi bahwa pemenang pilpres 2014 adalah tokoh kontestan pilpres yang pada nama lengkapnya terakhir di dalamnya terdapat akhiran suku kata Go, Ga, Ngo, Nggo.

Walaupun kans yang terkuat adalah suku kata Go, masih terbuka peluang dan kesempatan bagi siapapun untuk meraih kemenangan. Dalam hal ini yang dimaksud di sini ialah bagi yang ikut menjadi kontestan pilpres 2014 jika pada nama akhirnya memiliki suku kata selain daripada Go yakni pada nama lengkap bagian belakangnya mengandung suku kata: No, To, dan Ro.

Ada bedanya antara No, To, dan Ro dengan Go, maka yang No, To, dan Ro jika meraih kemenangan dalam pilpres 2014 maka terdapat prediksi sederhana bahwa yang bersangkutan akan mampu mencapai tahap "purna bhakti" 5 tahun. Akan tetapi pada pilpres 2019 ia akan mengalami kekalahan. Sang kepala negara yang bersangkutan yang incumbent tidak akan bisa menangkan pilpres untuk masa periode kedua kalinya.

Sedangkan prediksi di luar lima suku kata "notonogoro" atau menggunakan jalur alternatif lainnya, dalam hal ini "notonogoro" diartikan secara singkat "kepala negara", maka bagi barang siapapun yang kelak terpilih sebagai kepala negara RI pada 2014, terdapatlah prediksi sederhana bahwa masa pemerintahannya tidak dapat bertahan hingga "purna bhakti" karena dihentikan di tengah jalan alias tidak genap dan tuntas 5 tahun.

Ramalan Tarot: Presiden 2014, Pria dan Orang Jawa (lagi)

Ramalan Tarot: Presiden 2014, Pria dan Orang Jawa (lagi)

Tidak ikut sertanya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam Pilpres 2014, menjadi pemicu dinamika politik 2013 akan diwarnai kejutan-kejutan besar. Semua parpol ingin partainya menang di Pemilu 2014 dan jagonya juga menang di puncak pesta demokrasi, Pemilihan Presiden.


Banyak tokoh nasional disebut-sebut bakal kembali bertarung dalam memperebutkan posisi RI-1. Namun siapa yang paling berpeluang?


Semuanya masih belum jelas benar. Namun, ciri-ciri presiden 2014 mendatang versi peramal kartu Tarot, sudah muncul.


Adalah Endang Tarot, yang meramalkan akanada nama baru yang bakal diusung banyak partai. Sosok orang ini diyakini mampu memimpin serta menyelesaikan beragam persoalan di Indonesia.


“Sosoknya seorang pria dan ternyata dia dari suku Jawa lagi,” ujar Endang, Selasa (01/01/2012).


Ciri-cirinya, pria dengan tinggi sekitar 170 cm, berbadan sedang dan berisi. Saat ini tidak tercatat sebagai anggota partai politik.


“Saya tidak akan sebut namanya. Tapi pria ini berani dan menguasai ilmu ketatanegaraan dan namanya sudah familiar di kalangan politikus dan pejabat negara saat ini,” ungkapnya.


Endang mengatakan, sosok ini memang belum terlalu dikenal, namun publik akan mudah menerima kehadirannya.


Sumber: http://de.tk/2cUPR

Jakarta, Sayangi.com - Siapa sosok Presiden RI ke-7 yang akan menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono? Pertanyaan ini semakin mengemuka menjelang Pemilihan Presiden 2014 mendatang.

Berbagai survei menyebut Jokowi merupakan sosok yang ‘tak tertandingi’ jika Pilpres dilaksanakan hari ini. Namun apakah benar Jokowi akan menempati kursi RI-1 pada 2014 ini?

Peneliti dari The Indonesian Reform, Martimus Amin mengaku belum yakin jika Jokowi akan menjadi presiden tahun depan. Meski Gubernur DKI Jakarta itu unggul di semua polling, namun menurut Martimus, hal itu bukanlah jaminan. Apalagi jika ramalan Ronggo Warsito tepat.

“Benarkah Satria Piningit itu Jokowi? Mari kita simak ramalan Raden Ngabehi Ronggo Warsito, pujangga besar tanah Jawa yang hidup pada era Kasunanan Surakarta abad 18,” katanya kepada Sayangi.com, Sabtu (28/12/2013).

Menurutnya, ada tujuh satrio sebagai tokoh yang memerintah wilayah seluas wilayah eks kerajaan Majapahit ini. Tujuh tokoh tersebut adalah Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, dan Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu.

Ada pihak yang menafsirkan ke-tujuh Satrio sebagai berikut :

Pertama, SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO. Pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu tradisi penjara, kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor di seluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama RI. Berkuasa tahun 1945-1967.

Kedua, SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR. Tokoh pemimpin berharta dunia (Mukti), berwibawa dan ditakuti (Wibowo), namun dirinya dilekatan dengan segala kesalahan dan bernasib buruk (Kesandung Kesampar). Ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua RI dan pemimpin Rezim Orba yang sangat ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.

Ketiga, SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR. Tokoh pemimpin yang diangkat (Jinumput) tetapi hanya dalam masa transisi atau sekedar menyelingi (Sumela Atur). Ditafsirkan BJ Habibie Presiden Ketiga RI. Berkuasa tahun 1998-1999.

Keempat, SATRIO LELONO TAPA NGRAME. Tokoh pemimpin yang suka mengembara/ keliling dunia (Lelono) juga mempunyai jiwa rohaniawan dan kontroversial (Tapa Ngrame). Ditafsirkan KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dus, Presiden Keempat RI. Berkuasa tahun 1999-2000.

Kelima, SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH. Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Ditafsirkan Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima RI. Berkuasa tahun 2000-2004.

Keenam, SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO. Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (boyong) dari menteri menjadi presiden dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju puncak zaman keemasan (Pambukaning Gapuro). Ditafsir SBY. Ia akan selamat memimpin bangsa dengan baik jika mau tobat dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Pemimpin Ketujuh SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU.

SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU dinilai tokoh pemimpin sangat relijius yang digambarkan resi begawan (Pinandito/ ulama) yang rendah hati, memimpin atas dasar bimbingan syariat Allah SWT (Sinisihan Wahyu).

Jika merujuk pada tafsir ramalan ini, apakah Jokowi yang akan menjadi Presiden RI mendatang, ataukah nama-nama lain?

Seperti diketahui, dalam bursa Capres 2014 mendatang, terdapat banyak nama yang muncul. Di antaranya Mahfud MD, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Megawati Soekarno Putri, Jokowi, Rhoma Irama, Prabowo Subianto, dan Yusril Ihza Mahendra.
Lantas, apakah Anda percaya ramalan ini? Terlepas percaya atau tidak, ini hanyalah sekadar ramalan yang belum dipastikan kebenarannya.

Megawati: Jadi Presiden Itu Gampang

Megawati: Jadi Presiden Itu Gampang

Selasa, 7 Januari 2014 | 10:58 WIB
KOMPAS.com/Indra Akuntono Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum PDI Perjuangan DPP Megawati Soekarnoputri mengatakan, menjadi presiden adalah hal yang mudah. Yang sulit, kata Mega, adalah menjadi pemimpin yang adil dan menyejahterakan rakyatnya.

"Jadi presiden itu gampang. Bisa konstitusional atau inkonstitusional. Yang sulit itu jadi pemimpin, karena harus mengayomi rakyatnya," kata Megawati, di Jakarta, Senin (6/1/2014).

Dalam kehidupan berbangsa saat ini, kata Mega, masalah timbul karena falsafah Pancasila tidak lagi menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa. Padahal, ia yakin, masalah seperti intoleransi atau kesenjangan ekonomi dapat selesai jika semua pihak, khususnya para penentu kebijakan, mampu membuat kebijakan dan regulasi yang pro-rakyat.

"Sekarang lihat, ada hal yang harusnya enggak perlu terjadi kalau kita berpegang pada Pancasila. Kita ini merdeka dan diakui, masuk PBB dengan terhormat, tapi kok masih nanya suku-suku. Padahal kita itu suku Indonesia," ujarnya.

Mega mengungkapkan, pemimpin selanjutnya memiliki beban tugas yang lebih berat. Beberapa masalah yang harus dituntaskan di antaranya kesenjangan ekonomi, intoleransi, dan rencana pembangunan jangka panjang nasional.

Menurut Mega, saat ini tak ada garis haluan yang menjadi patokan dasar dari satu pemimpin kepada pemimpin berikutnya. Akhirnya, pembangunan nasional menjadi tidak berkelanjutan.

"Sekarang ini enggak terarah dan enggak terukur. Terbayangkan enggak, orang ini hanya bisa dua periode, lalu berganti lagi, visi dan misinya ganti lagi. Enggak terarah, yang satu mau ke kanan, satu mau ke kiri, beda pandangan," kata Meg

Minggu, 05 Januari 2014

Presiden 2014 Keturunan Majapahit

Presiden 2014 Keturunan Majapahit – Beberapa waktu lalu, Lembaga Survey Indonesia (LSI) merilis hasil survey Calon Presiden Indonesia 2014 dengan respondennya orang pintar bergelar S3, berpangkat jenderal dan opinion leader.
Dari hasil survey ini memunculkan rangking deretan nama-nama Calon Presiden Indonesia 2014 atas pilihan orang pintar. Beda lagi dengan amatan orang pintar versi paranormal seperti Permadi SH. Menurut politisi yang juga bergelar orang pintar paranormal ini meramalkan bahwa Calon Presiden Indonesia 2014 keturunan Majapahit. Itu ramalan Capres 2014 versi orang pintar Permadi SH.
Namanya juga ramalan, tak bedanya juga survey, sama-sama memiliki probabilitas bisa benar, bisa meleset. Justru kini yang jadi pertanyaan, adakah dan siapa di antara deretan nama-nama Calon Presiden Indonesia 2014 hasil survey LSI itu masih punya garis keturunan Majapahit, sebagaimana ramalan orang pintar Permadi SH.
raja majapahit
Sulit rasanya menyisir untuk menemukan garis silsilah keturunan seseorang dalam rentang waktu dari era Majapahit di abad 14, sementara sekarang sudah memasuki abad 21. Walau itu hal yang mustahil, tapi tak ada yang tak ada sekalipun itu kita anggap sebagai hal yang mustahil.
Menurut Permadi, istilah keturunan Majapahit itu tidak harus berarti yang bersangkutan memiliki garis keturunan atau ada silsilah langsung dengan Majapahit. Tapi keturunan itu bisa turunan, dalam artian yang bersangkutan kewahyon, menerima turunan wahyu, menerima Wahyu Kedaton atau Wahyu Cakraningrat memimpin negeri ini.
Sebagai politisi yang juga paranormal, Permadi mencoba memadukan pola pikir antara logika rasional dengan logika irasional. Karena menurutnya, hal-hal yang sekalipun dianggap logika irasional ini masih banyak dipercayai dan mempengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia. Sebagaimana masyarakat masih banyak mempercayai ramalam Prabu Jayabaya maupun pujangga Ranggawarsito yang menubuatkan akan datangnya pemimpin pembebas dan penyelamat Satrio Piningit atau Ratu Adil.
Begitupun ketika Permadi berkisah tentang bahwa Calon Presiden Indonesia 2014 keturunan Majapahit, pastilah ada hal-hal yang mendasari dan melatarbelakangi apa itu lantaran olah pikir logika irasionalnya sebagai seorang spiritualis yang dapat wangsit.
Begitu pula ketika ditanya adakah dan siapa kira-kira di antara deretan nama-nama Calon Presiden Indonesia versi hasil survey LSI yang keturunan Majapahit? Tiba-tiba ia berdiri dari tempat duduknya, lalu mengambil sebuah keris yang sengaja sudah dicabut dari warangkanya. “Keris ini milik Gajah Mada didapat dari danau air terjun Madakaripura,” ujarnya. Air terjun Madakaripura yang terletak di lereng pegunungan Tengger, desa Lumbang – Probolinggo, dipercayai sebagai tempat pertapaan dan moksanya mahapati Majapahit – Gajah Mada.
Permadi pun berkisah, bahwa keris ini diberikan sebagai titipan. Keris ini akan ia serahkan kepada seseorang yang mendapat petunjuk sebagai keturunan Majapahit untuk memimpin Nusantara. Siapa itu? “Siapa pun penerima keris ini harus memegang titah atau amanah ‘Amukti Palapa’ – Gajah Mada untuk memimpin negeri ini,” tandas Permadi, sambil menambahkan bahwa keris ini sengaja ia simpan di cabut dari warangkanya, agar auranya menyebar.
Ia mengaku belum tahu akan diserahkan kepada siapa keris ini, masih menunggu petunjuk, katanya. “Tugas saya hanya mengantar,” ucapnya lirih sambil matanya lekat memandang keris ‘Amukti Palapa’ – Gajah Mada yang ada dalam genggaman tangannya.(Sumber: Tribunnews)